Menyempurnakan Adab
Hijab secara harfiyah diartikan dinding, dinding adalah penghalang atau penutup dari segala kekuasan sifat, tingkah laku atau perbuatan yang nampak pada insan. Hijab adalah wujudnya nafsu birahi manusia, dan manusia adalah insan yang di dalamnya antara nafsu dan iman.
Insan dalam perspektif Islam memiliki pemaknaan yang berbeda-beda, ada yang mengartikan sebagai manusia, adapula yang mengartikan sebagai hamba, dan ada pula yang mengartikan sebagai abdun, kemudian ada pula yang menyebut annas. Dari keseluruhan pemaknaan tersebut pada intinya tidak lain adalah Iman, dan berarti yang dimaksud dengan manusia pada umumnya adalah iman. Dasar penegasan ini ditulis tidak lain adalah sesuai dari sumber hukum Islam yaitu Al Qur’an yang bilamana dalam islam, Tuhan Allah SWT berfirman dengan mengeluarkan sebuah keputusan, baik yang berisi perintah untuk dilakukan dan berisi larangan yang harus atau bahkan wajib ditinggalkan, maka yang dipanggil itu adalah iman. Bukan manusia, karena manusia adalah nafs, dan nafs adalah hijab yang tebal. Sebagai contoh seruan Allah SWT yang menyatakan panggilan iman dengan subtansi dari panggilan tersebut adalah perintah, yaitu banyak ditemukan pada Surah-surah Al Qur’an yang diwahyukan di Kota Madinanatirrasul atau Madinah. Dengan kalimat-Nya yang berbunyi “Yaa ayyuhalladzi na a’manu” yang artinya hai-hai orang-orang yang beriman.
Mengapa Allah SWT dalam mengeluarkan sebuah ketetapan yang berisi perintah dan larangan itu, dengan memanggil iman, bukan insan atau annas setelah dalam kurun waktu hijrahnya Rasulullah SAW dari Kota Mekkah ke Madinah, yang semula sebelum hijrahnya Rasulullah dari Kota Mekkah itu Allah Berfirman dengan menggunakan kata seruan yang ditujukan kepada Annas atau manusia. hal tersebut dikarenakan di saat itu keberadaan ummat belum mengenal agama (islam), yang maksud dari pada itu adalah manusia di saat itu dalam keadaan jahil. Yang disebut zaman jahiliyah, yaitu dimana manusia belum mengenal diri, yang pada intinya belum mengenal Allah SWT.
Awal Agama Mengenal Allah SWT
Awwaluddin ma’rifatullah yang berarti awal agama menegnal Allah. Maksud dari perkataan ini memiliki penafsiran dan pemahaman yang harus berdasarkan iman. Dimana Allah perintahkan insan atau manusia yang diciftakan bukan yang menciftakan ini agar mengenal dan menyembah Allah SWT, agar bertaqwa. Maksudnya sebelum insan itu menyembah-Nya, maka terlebih dahulu pada permulaan adanya adalah mengenal diri yang maksud di dalamnya adalah mengenal Tuhan.
Mengenal diri sebagaimana telah ditegaskan dalam hadist qudshi yang berbunyi, “Kenalilah dirimu sebelum engkau mengenalKu, maksud dari kalimat ini adalah merupakan cermin dalam kehidupan bagaimana seorang insan atau manusia itu bertingkah laku yang baik dalam kehidupan ini. Adapun tingkah laku itu adalah dalamnya akhlak, dan di dalamnya akhlak adalah adab, dan isi serta wujud dari adab adalah hukum yang tersurat di dalam Al Qur’an. Dimana jika seorang insan atau manusia yang mengenal hukum itu bersumber dari Tuhan, biasanya yang lazim disebut di masa modern ini dalam metode penelitian hukum adalah disebut teori hukum murni, yaitu aliran hukum Tuhan.
Sedikit mengingat sejarah, dimana di masa jaman jahiliyah peradaban pemikiran manusia berada dalam kebodohan. Dan tatanan kehidupan pun serba seadanya. Dimana tingkat kekuasaan hawa nafsu yang tinggi itu hanya ada pada golongan orang-orang besar atau penguasa saja. Pada dasarnya kekuasaan yang menjadi panglima dalam mengatur tatanan kehidupan. Dimana fungsi penguasa adalah menjadi Tuhan dalam kehidupan.
Jika yang berkuaasa itu adalah penguasa yang zalim dan sombong, maka bagaimanapun juga keberadaan nasib ummat di saat itu, apa kata penguasa saja, oleh karena kekuasaan penguasa besar itu ditakuti, maka ummat di masa itu diperlakukan menjadi budak.
Sebagai cerminan penguasa di era reformasi ini adalah, apabila penguasa yang menguasai negara ini zalim dan sombong dengan kewenangannya, maka dampak yang timbul adalah perlakuan yang tidak mengenal nilai kemanusiawian dan keadilan yang baik. Maka oleh sebab itu masyarakat, rakyat biasa akan diperlakukannya seperti budak. Jika di zaman jahiliyah itu ada masa perbudakan yang dilakukan oleh penguasa besar yang ditakuti, sedangkan di masa sekarang adalah perbudakan reformasi yang dilakukan oleh para birokrasi yang menjalankan urusan adminstrasi atau pemerintahan.
Setelah tiba masanya, maka hukum Tuhan itu lahir yang semula di bawa oleh seorang Nabi, yaitu bermula semenjak zamannya Nabi Ibrahim AS. dan hingga sampai pada zamannya Nabi Muhammad SAW yang diutus menjadi Rasul di masa itu.
Fase perkembangan pemikiran, peradaban manusia dimasa itu sudah mulai berani menghancurkan, memerangi kebatilan dari segala ketidakadilan, menghancurkan kemunafikan, dan meluruskan pandangan hidup dari kemusyrikan yang menyelimuti keyakinan/keimanan ummat manusia di masa itu, serta menumpas kezaliman yang menguasai raga manusia dalam menjalankan kekuasaan yang telah dikuasainya, dan lain sebagainya.
Kompliks yang terjadi di masa itu diwarnai dengan berbagaimacam jenis perperangan, perjuangan jihad yang bercorak keislaman, sebagaimana pada peristiwa perang badar, perang uhud yang tujuannya adalah tidak lain jihadul islam memerangi kezaliman, kesombongan, kemunafikan dan kemusyrikan. Dimana perjuangan tersebut membuahkan kemenangan hanya dengan berdasarkan keyakinan kepada Allah SWT.
Secara berangsur-angsur Allah SWT memberikan petunjuk kepada ummat islam di masa itu dengan jalan menurunkan wahyu atau petunjuk tersebut kepada seorang nabi yaitu Muhammad SAW. Yang kemudian diutus pula menjadi Rasul yang kelak memimpin ummat hingga sekarang ini.
Perjuangan Rasul dan kepemimpinan rasul sebagaimana tersurat di dalam Al Qur’an Surat Al Ahzab, bahwa pada diri rasul adalah merupakan suri teladan yang baik, atau petunjuk kehidupan yang baik.
Kembali kepada pengenalan diri, dengan mencermini sifat dan kepribadian, akhlak dan kepemimpinannya para nabi, yang kemudian diutus menjadi rasul. Apa momentum di dalam ajaran Islam yang dimaksud dengan mengenal diri itu?
Awal agama mengenal Allah itu kedudukan keimanan yang mantap, yang tidak ragu walau dalam keadaan apapun, tidak sak wasangka, tidak takut dengan apapun, melainkan hanya takut kepada Allah SWT yang menguasai, yakin dan ikhlas dengan semua keputusan yang terjadi.
Iman dan Islam
Apakah antara iman dan islam itu ada yang terdahulu, atau siapa yang lebih terdahulu jika itu benar ada yang terdahulu? Iman yaitu yakin atau keyakinan yang mantap (tahkik) tidak ragu atau sak wasangka serta tidak takut dengan apapun kecuali hanya takut kepada Allah SWT. Sedangkan Islam adalah nama dari salah satu agama yang diyakini insan. Apakah harus mengutamakan nama agama dulu yang di yakini atau meyakini dahulu ajaran Islam yang diterangkan dlam Al Qur’an?
Banyak para sufi atau ahli dibidang ilmu tasawuf berpendapat, bahwa di antara iman dan islam itu tidak ada yang terdahulu, melainkan kedua unsur tersebut dalam satu kedudukan yang sejalan dan sejajar. Namun cara pemahaman dan sudut pandang insan lah yang menjadi pengukur tingkat keimanan atau keyakinannya terhadap agama Allah SWT, yaitu Islam yang diridhoi. Innaddina Indallahilislaam.
Begitu pula dengan pertanyaan yang mengatakan, Siapa Rasulullah;Siapa Allah? Dimana WujudNya? Bertempatkah jika dikatakan dimana? Bukan sudah jelas disebutkan dalam Al Qur’an Sesungguhnya Aku tidak bertempat, Aku lebih dekat daripada urat lehermu. Jika seorang mengatakan iman itu ada di hati, maka hati adalah tempat, apakah Allah ada di hati, apabila iman itu ada di hati, maka Allah itu diyakini ada di hati, bukan hati itu adalah tempat, berarti Allah bertempat apabila ada di hati. Kemudian ada yang mengatakan Tuhan(Allah), yang biasa disebut-disebut manusia dalam kesehariannya, “Yang di atas melihat saja”. maksud dari kata di atas itu adalah memberikan makna apa sebenarnya? Biasa bisa diartikan adalah sebagai sesuatu yang menyatakan tempat atau kedudukan. Bisa di atas karena memang itu tempat, dan bisa juga di atas tersebut diartikan oleh karena pangkat atau kedudukan. Jika demikian adanya, maka Allah yang dikatakan Yang di atas dimaksud itu adalah merupakan pernyataan yang menyatakan Tuhan (Allah) itu bertempat. Bukan nyata sesungguhnya Allah itu tidak bertempat.
Kemudian Allah dikatakan di langit, bukankah langit itu adalah tempat, sesungguhnya Allah tidak bertempat. Dikatakan di bawah, di atas, di hadapan, di belakang, di samping kanan dan kiri, bukankah itu adalah tempat. Semua itu adalah tempat, sesungguhnya Allah tidak bertempat.
Jika Allah bertempat, maka niscaya banyak insan yang akan menemuinya. Oleh sebab itu, alangkah lebih baiknya cukup bagimu yang dibukakan hijab mengenali diri;mengenal Tuhanmu. Agar sempurna segala akhlak dan adab dalam membuka hijab risalah ketuhanan.
Sebaiknya berkatalah didalam rahasia jika hendak membicarakan rahasia(hakikat), Tidaklah pantas jika seorang membuka rahasia di tengah khalayak yang belum mengenal rahasia, Seumpama membuka sesuatu yang dirahasiakan misalkan menutup kemaluan, kemudian dibuka di tengah khlayak atau ummat dengan menelanjangi diri tanpa ditutup oleh sehelai kain(syari’at), maka apakah yang nampak, yaitu akan berdampak membawa fitnah, Bukalah rahasia itu di dalam rahasia, karena Aku tidak berahasia.
Cukup fanakan rasa maka Ia ada, apabila ada rasa maka Ia tiada, apabila Ia tiada maka nafsu yang ada, apabila nafsu yang ada, maka syirik khafi kedudukannya. Tidaklah pantas bagimu berkata bahwa “aku telah bertemu Tuhan, dan menyaksikan (musyahadah) Tuhan, hanyalah yang pantas menyaksikan Tuhan (Allah) adalah Rasulullah.
Seumpama pemasangan aliran listrik, jika untuk pemasangan aliran tersebut langsung di pasang ke pusat induk pembangkitnya, maka apa yang terjadi? Hancur dan panas, bukankah panas itu bersumber dari api, dan api adalah amarah yang merupakan sifat iblis yang menguasai insan yang tidak mengenal Tuhannya, Iblis adalah penghuni kekal dalam neraka jahim. Maka oleh sebab itu di adakan KWH meter yang membagikan arus (ilmuNya ;ImanNya) kepada setiap pemasangan listrik di rumah-rumah. Itulah bukti bahwa insan itu tidak pantas mengatakan bahwa aku bertemu sudah sampai dan bertemu Tuhan.
Jadi itulah bukti perumpamaan, bahwa Allah itu adalah pusat atau sentral dari daya listrik yang di alirkan(diwahyukan) kepada Rasulullah (KWH meter Sekring) yang telah menerangi rumah(iman) yang ada, sehingga mudah menyaksikan dalam terangnya cahya iman yang sempurna, dalam kedudukan insan kamil (sempurna) segala akhlak dan adabnya.
Apabila ahklak itu tidak beradab maka binasalah syahadat. Apabila binasa syahadat maka rusaklah i’tikad...
Penulis: abidulpaqir muhammad murjani// Mahasiswa STIH Sultan Adam Banjarmasin.
Email;murjaniombudsman910@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar