Senin, 02 Februari 2015

Kiat Memilih Pemimpin

 
Kiat Memilih Seorang Pemimpin
Di era moderenisari kehidupan manusia bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang mana di usia dunia yang sudah menua ini, bahkan sudah maulai melapuk dan rapuh, masing-masing pihak dari berbagai kalangan, baik kalangan bawahan yang awam sampai pada kalangan partisi tingkat atas yang jiwanya sudah mendarah daging bergelut dalam bidang politik(politisi) hanya karena memperjuangkan suatu hasrat, keinginan yang menggebu-gebu untuk menjadi seorang pemimpin. Dari tingkat bawahan hingga tingkat atasan telah mewarnai wajah negeri ini hanya karena berkeinginan mencari seorang pemimpin yang menjadi dambaan setiap kalangan masyarakat, dengan berbagai macam cara, untuk memenuhi apa yang telah menjadi keinginan pada masing-masing partisi tersebut.
Politik, yang tidak kita sadari dewasa ini telah mempermainkan hukum. Dimana hampir setiap partisi telah mengatur siasat, strategi dalam persaingan hanya karena mengejar satu pilihan, yaitu minta dipilih dan sebagai terpilih. Dalam konteks ini, dimana para pemikir politik akan berperan menjadi seorang sutradara, dan para calon yang akan dipilih sebagai aktor yang merupakan pemeran utama, atau bintang pesona yang manjadi dambaan penonton yang menyaksikan permainan itu. Dimana dalam pertunjukan yang disutradarai oleh politisi yang ternama dan berpengaruh, maka penonton pun seakan terhipnotis oleh karena alur cerita(pembicaraan) politiknya yang begitu mengesankan, meyakinkan para penonton (masyarakat)pemerhati sekalian. Sehingga masyarakat pun mengakui dan memuja bintang (calon)tersebut, untuk patut memilih seorang aktor (bintang) itu.
Dari satu sisi ada pula permainan pemikir politik dengan cara mengobral janji disana-sini, dengan tujuan agar menjadi seorang yang terplih dalam kompetisi antar politisi tersebut. Peraturan perundangan dibuat, yang merupakan syarat formal seorang calon harus memenuhi kreteria, persyaratan sebagaimana yang dimaksud dalam peraturan persyaratan menjadi seorang calon pemimpin, yang diantaranya adalah calon tersebut harus kaya, dengan syarat ketentuan sebagaimana dimaksud dalam peraturan yang mendasari hukumnya, dengan tujuan agar calon pemimpin tersebut kelak terpilih, karena calon tersebut sudah kaya, maka tidak akan berakibat calon tersebut berbuat menyalahkangunakan kewenangannya itu, yaitu KKN, Maladministrasi, dan Diskriminasi. Padahal secara logika saja, kita memperhatikan, berarti politik itu hanya ada bagi sekumpulan orang-orang yang jiwanya bergelut dalam pemikiran politik. “Yang mana pada intinya Politik itu berpijak pada dasar Pendidikan Tinggi, keinginan,  persaingan, Kekeluargaan, Kekayaan, dan jabatan”.
Nah jika pijakan diatas itu bisa terpenuhi oleh salah seorang calon maka berkemungkinan besar calon tersebut akan terpilih.  Apakah ada unsur lain yang diperlukan? Ada, tapi ini kemungkinan hanya sebagai pelengkap saja,dalam pandangan mereka, bukan merupakan yang diutamakan bagi calon itu. Akan tetapi dari unsur yang satu ini jika tidak ada maka akan sangat berpengaruh bagi ketentraman sebuah negara ini. Apa itu? yaitu Iman, Takwa, Jujur,  adil, dan Setia(ITJAS). Mengapa demikian? Karena jika unsur-unsur ini tidak ada tetanam di dalam jiwa seorang pemimpin ini, hanya karena mengutamakan unsur politik yang seperti disebut diatas itu, maka siapapun orang yang yang akan menjadi calon itu, jika terpilih, maka akan berakibat ketidaktentraman  di dalam kehidupan ini. Mangapa begitu?Karena yang ada dalam benak pikiran politisi itu hanyalah lebih mengutamakan keinginannya daripada kewajibannya.
Banyak orang-orang yang ada dibawah, yang malah berintegritas dan idealis yang sebenarnya patut untuk dicalonkan jadi seorang aktor bintang atau calon tadi, namun oleh karena mereka orang miskin, hanya memenuhi persyaratan yang ITJAS itu saja, maka oleh karena kelemahan mereka bersaing dalam politik tersebut,  mereka pun menyerah. Jadi,,, “Apakah Memilih Seorang Pemimpin Itu Harus Mengutamakan Kekayaan,kekeluargaan, dan suatu jabatan yang berkaitan sebagai pendukung bagi calon pemimpin? Itukah Yang Lebih Diuatamakan Sebagai kreteria Untuk Menjadi seorang pemimpin yang akan dipilih? Kakayaan itukah Yang Akan Menyelematkan Negeri Ini Dari Kemaslahatan Kehidupan Yang Sudah Serba Tidak Teratur Ini? Jawabnya adalah, tanyakan kepada diri kita sendiri, karena yang menentukan dan mempertimbangkan itu adalah diri kita sendiri, dan ingatlah jika kita salah/benar dalam memilih  calon pemimpin, maka kita sendiri yang akan mendapatkan akibatnya.
“Mancari jejak pahlawan yang hilang” , tulisan yang dikemukakan oleh sdr. Kita Muhammad Firhansyah SH, M.Kom. Tulisan tersebut memberikan sebuah moment, agar kiat-kiat kita dalam memilih seorang pemimpin itu hendaklah seperti apa yang dimuat di dalam tulisan Mencari Jejak Pahlawan yang Hilang. Dimana dalam tulisan tersebut mengungkapkan dambaan  terhadap pemimpin yang berintegritas berintegritas, idealis, jujur, adil dan terbuka terhadap rakyatnya. Mengapa demikian saudara?  Karena dewasa ini sangat sulit mencari seorang pemimpin yang betul-betul berjiwa Pancasila. Penulis berani mengatakan, diantara seribu manusia yang mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin, yang jujur benar-benar jujur, dan adil itu hanya ada satu saja.
Bagi saudara-saudara sebangsa  dan setanah air, janganlah kalian terlalu berlebihan memuja seorang manusia yang menacalonkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin di negeri ini!!! Kalian telah dikelabui oleh harta dan argumentasi  mereka yang kaya dan pandai untuk memperalat kalian agar mereka bisa terpilih menjadi seorang pemimpin di negeri ini. Yang mana kelak jika mereka terpilih maka kalian tidak lagi menjadi perhatian mereka yang lagi asyik-asyik duduk dikursi dambaan itu. Apalagi jika sebaliknya tidak terpilih, maka yang kalian dapat hanyalah apa? Janji dan angan-angan saja.
“Ingatlah saudara sekalian,, kejujuran dan keadilan itu sangat sederhana sekali, tapi apakah kita sebagai manusia ini sudah jujur dan adil”. Jawabnya,,,, Beluuum,,,ada yang  mengaku, aku sudah jujur dan adil, dalam segi apapun, beluuum. Dan penulis pun  sama juga bukan orang yang mampu untuk jujur dan adil. Sadarkah kita yang setiap hari hanya berdusta dan berdusta ini, hanya karena keinginan nafsu birahi yang kita anggap itu benar dan baik, dan bahkan kita telah menjual ayat-ayat Tuhan oleh karena untuk mengutamakan privasi  kita agar dikenal sebagai pemimpin yang jujur dan adil. Sungguh seperti itukah diriku yang melihat kehinaan dan kezaliman prilaku yang kuperbuat selama ini. Apakah kita yang seperti itu layak untuk dipilih menjadi seorang pemimpin? Sangat tercela dan tercela diriku, jika aku terpilih menjadi seorang pemimpin, mangapa demikian saudara? Karena diriku lebih mengutamakan privasi dan keuangan yang menguasai diriku, bukan kewajiban dan tugasku yang kuutamakan disaat aku manjadi seorang pemimpin.
Jadi saudara sekalian, sebangsa dan setanah air. Mari Kita Bercermin Untuk Mengenal Diri, Agar Kita Dalam Memilih Seorang Calon Pemimpin, Kita Dapat Mengenali Siapa Yang Patut dan Pantas Untuk Kita Pilih dan Dijadikan Sebagai Pemimpin Dinegeri Ini. Pemimpin Sejati, Yang berbudi Luhur, Jujur, dan adil, serta Bertaqwa Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Pemimpin Yang Adil Hanyalah Pemimpin Yang Berserah Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa...Bersambung pada Edisi Ke-II dalam “Pemimpin Yang Jujur dan Adil”
Penulis: Muhammad Murajani
Mahasiswa STIH Sultan Adam Banjarmasin
Email:muhammadmurjani@yahoo.com   &    murjaniombudsman@gmail.com
Tampilkan lebih sedikit

Tidak ada komentar:

Posting Komentar