Senin, 02 Februari 2015

Kejadian Manusia dan Hakikat Hukum

 
Manusia pada umumnya adalah makhluk ciftaan Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Al Hijr Ayat 26-35, yang mana Allah menciftakan manusia dari tanah lumpur yang hitam yang diberi bentuk. Kemudian Allah titipkan ruh hingga sempurnalah kejadiannya. Setelah penciftaan itu selesai maka Allah SWT perintahkan kepada seluruh para Malaikat dan juga Iblis untuk bersujud terhadap manusia yang diciftakan dari tanah lumpur hitam yang diberi bentuk itu, maka seluruh malaikat itupun bersujud kecuali Iblis, yang enggan bersujud.
Apakah rahasia dibalik semua peristiwa yang diterangkan Al Qur’an dalam firman Allah SWT dalam surat Al Hijr itu?
Untuk menjawab pertanyaan di atas tentulah kita sebagai insan yang diciftakan, bukan yang menciftakan, hendaklah diri terlebih dahulu mengenali akan sebenarnya diri. Jika diri sudah dikenal maka akan mengenal siapa sebenarnya diri. Jika hendak mengenal diri maka hendaklah pada setiap insan itu mengakui dengan segala kerendahan, kelemahan, kehinaan, dan kepaqiran atas  segala apa yang telah menjadi pengakuan diri/nafsi. Maka setelah pengakuan insan itu dikembalikan kepada Rabbi yang Maha Ghani maka lenyaplah diri/nafsi dari segala akuan apa yang telah diri itu miliki. Jika insan itu beriman atau berkeyakinan atas keyakinan yang dianugrahkan Allah SWT kepada insan itu, maka insan akan mengenali dan/atau memahami rahasia apa yang sebenarnya terjadi dalam firman Allah SWT pada Al Qur’an Surat Al Hijr itu. Yang mana setelah disempurnakan adanya, dan di saat itu Allah SWT perintahkan kepada seluruh para Malaikat dan juga Iblis itu untuk bersujud, yang mana seluruh para Malaikat itupun bersujud kecuali Iblis, yang enggan untuk bersujud itu.
Membicarakan pengenalan diri adalah pembicaraan keimanan, bukan hanya sekedar berargumen untuk memberikan sebuah pandangan dan/atau berkeinginan untuk meyakinkan seseorang dalam maencapai segala tujuan dalam kehidupan. Dewasa ini telah banyak kemungkaran, kemunafikan, kezaliman, kemusyrikan yang telah ingkar kepada ajaran Al Qur’an. Menjual ayat-ayat Allah demi suatu kepentingan, keinginan, kebutuhan, yang seakan seorang insan itu merasa dirinyalah yang paling baik dan paling benar dimuka bumi ini, dan bahkan pengakuannya itu, dialah yang paling sempurna segala prilaku dan perbuatan diantara sesama saudaranya, rekan-rekannya. Seakan dia  berkata” akulah orang yang paling baik dari segala perilaku dan perbuatan disisi Tuhanku”, katanya. Itulah kesombongan, kezaliman, kemunafikan, kemusyrikan yang telah mewarnai jiwa seorang insan yang dirinya merasa melebihi dari segala sesuatu yang telah dtitipkan kepada insan itu, padahal insan itu telah lalai atas apa yang telah diterangkan Al Qur’an dalam firman Allah pada surat Al Hijr itu. kesombongan, kezaliman, kemunafikan, dan kemusyrikan itulah sifat dari prilaku Iblis yang telah menguasai Insan itu dari segala prilaku dan perbuatannya dalam kehidupan. Sebenarnya dari sifat keangkuhan, kesombongan, kezaliman, kemunafikan, kemusyrikan itu adalah kenyataan dari sifat Iblis yang enggan bersujud tadi, tatkala Allah perintahkan kepadanya (iblis ) untuk bersujud, yang mana dia (iblis) engan untuk bersujud.
Jadi jika kita yang selama ini telah menyombongkan diri atas apa yang telah dititipkan Allah SWT kepada kita, menzalimi sesama saudara oleh karena pangkat, jabatan, dan kedudukan dan/atau apa saja, yang mana dari keseluruhan itu adalah karunia, hidayah, rezeki dari Allah SWT yang telah membuat lupa/lalai oleh karena ditutup atau dihijab oleh nafsu birahi yang serba kekurangan dan kepuasan birahi yang telah membuat kita sombong, zalim,aniaya, terhadap sesama ummat dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Itulah pernyataan sifat Iblis yang enggan untuk bersujud tadi. Mengapa demikian? Karena Iblis adalah musuh yang nyata, sesat lagi menyesatkan. Jika Iblis telah menguasai Insan dari segala siasatnya untuk menyesatkan insan dalam suatu keadaan, yang insan itu dalam berkelebihan dan dalam kekurangan. Maka terlihat nampak pada prilaku insan itu dirinya yang selalu merasa paling baik dan benar, tidak pernah salah, dan selalu menyalahkan orang lain, angkuh atau sombong, arogansi dalam segala hal, menghalalkan segala cara, mengapa demikian? Jawabnya adalah karena dirinya(nafsi) yang merasa paling sempurna dalam segala hal urusan. Padahal sifat itu adalah sifat kesombongan Iblis yang enggan bersujud tadi, tatkala Allah SWT memerintahkan untuk bersujud itu. Mengapa demikian? Karena Iblis merasa tidak pantas untuk bersujud terhadap insan yang diciftakan dari tanah lumpur hitam yang diberi bentuk itu, sedangkan ia (iblis) tercifta dari api yang bergejolak, lalu ia (iblis)merasa sebagai makhluk yang paling sempurna diciftakan. Disitulah pengakuan Iblis yang yang enggan untuk bersujud takala Allah SWT perintahkan ia (iblis ) untuk bersujud.
Apa Hakikat Bersujud Itu Sebenarnya?
Bersujud bukan hanya berarti kita selalu sujud dalam ibadah sholat 5 (lima) waktu dan/atau sholat sunnat itu saja. Yang dimaksud bersujud itu sebenarnya adalah sebuah perkataan yang simple saja disebut dan didengar, tapi penuh makna dan maksud dalam penafsiran serta pemahamannya. Yang dalam memahaminya adalah atas sebuah hidayah keimanan dari segala keridhoan Allah SWT kepada siapa Ia menghendakinya.
Banyak orang bisa bersujud. Dalam sholat yang diajarkan kepada seseorang yang mau melakukan sholat, yang mana dalam gerakan-gerakan sholat serta tata caranya salah satu diantaranya adalah gerakan sujud. Apakah itu yang sebenarnya dimaksud dengan bersujud?Baik,,, mohon maaf, Kepada anak-anak kecil saja bila diajarkan kepadanya tata cara gerakan sujud-bersujud dia juga bisa melakukan gerakan sujud itu. Tapi apakah itu yang dimaksud dari kata  bersujud sebenarnya dari perintah Allah SWT dalam Al Qur’an surat Al Hijr itu? Sebenarnya, sangat nyata  dari Firman Allah SWT itu. Dengan membedakan perbuatan yang dilakukan oleh para malaikat dan iblis itu, yang mana Malaikat itu bersujud sedang Iblis enggan untuk bersujud terhadap manusia yang tercifta dari tanah lumpur hitam yang diberi bentuk itu. Jadi apa maksudnya? Bersujud itu adalah pernyataan tunduk dan patuh pada suatu perintah atas apa yang telah diperintahkan. Maksudnya, bersujud bukan berarti kita hanya bersujud seperti yang dilakukan dalam mendirikan dan/atau mengerjakan perintah sholat itu saja, melainkan itu adalah suatu peristiwa musyahadah/penyaksian akan suatu pengakuan insan terhadap kebesaran, kekuasaan Allah SWT yang merupakan bukti dari tunduk dan patuh karena Allah SWT yang dalam bentuk perbuatan dan perkataan yang secara lahiriyah/nyata. Tetapi bersujud itu adalah keimanan yang hanya karena Allah SWT. Bersujud adalah dinyatakan pada kerendahan diri, tidak angkuh atau sombong dalam berprilaku terhadap semua makhluk yang ada dalam pandangan hanya karena Allah SWT lah yang Maha Kuat, maha Tinggi, Maha Perkasa, Maha Bijaksana,dll dalam pandangan keimanan seorang insan itu. Banyak orang yang bisa melakukan sujud, yang mana tidak hanya dalam hal ibadah sholat saja, baik yang diwajibkan dan/atau yang disunnahkan.  Tetapi maksud dan rahasianya itu yang sekian banyak orang yang sudah melakukan sujud itu belum mengenal dan mengetahui apa maksud dari rahasia Allah SWT pada kata bersujud itu. Makanya jangan heran jika kita melihat seseorang yang sudah merasa paling banyak bersujudnya, paling kuat sujudnya, namun ia tidak dibukakan rahasia sujud-bersujud itu apa? Maka bukti yang ada apa yang akan terjadi dan nampak dalam perilaku atau perbuatannya itu, selepas seorang itu bersujud? Yang ada malah semakin bertambah kesombongan, keangkuhan, kezalimannya, dan bahkan kemunafikan, serta kemusyrikan oleh karena pengakuannya yang telah bermaksud lain dan tidak mengenal arti keimanan yang sebenarnya.
“Janganlah kita merasa yang paling sempurna                                                                                                                                 Karena kita adalah makhluk yang diciftakanNYa                                                                                                                               Dan janganlah kita merasa terhina                                                                                                                                                     Karena Dia Maha Mulia lagi Bijaksana”
Minta halal dan ridho ampun maaf atas segala kekurangan,,,,Wassalam Wr.Wb
Penulis:Abidul Paqir Muhammad Murjani bin Hanafi Al Banjari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar