Hikmah Ramadhan Cermin Pelayanan Publik
Dalam kesehariannya penyelenggara negara yang bertugas menjalankan urusan pemerintahan, dalam hal memberikan pelayanan publik tertentu, sering mengeluhkan pada suatu keadaan/situasi tertentu dalam rangka memberikan pelayanan publik kepada masyarakat atau warga negara. Hal ini berkenaan dengan tibanya bulan suci Ramadhan, yang mana bagi penyelenggara negara yang menjalankan tugas pemerintahan berkeyakinan memeluk agama Islam pada umumnya selain menjalankan ibadah-ibadah wajib yang di wajibkan kepadanya, seperti sholat mereka juga menjalankan ibadah lainnya, yaitu biasa yang dikenal hanya adanya di bulan Ramadhan saja, yaitu ibadah puasa.
Ibadah puasa sebagaimana dimaksudkan agar setiap insan yang beriman kepada Allah SWT yang beragama Islam, adalah diperintahkan untuk menahan dari segala keinginan-keinginan hawa nafsu yang menguasai diri dari segala akuan akan keesaan Allah SWT. Seperti halnya menahan lapar dan dahaga, menahan keinginan/syahwat hubungan antara pria dan wanita, mengendalikan diri dari sifat marah, menjaga perkataan jika dalam berbicara, menjaga pendengaran dalam bergaul dari perkataan-perkataan yang bersifat menghasad/dengki, mengendalikan dari dari segala kekuasaan, kedudukan, kemuliaan dalam menjalankan amanat yang diberikan kepada setiap insan.
Dalam konteks ini berkenaan dengan hikmah Ramadhan dan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara, maraknya perilaku pejabat, abdi negara(administrator) yang menjalankan tugasnya tidak maksimal dalam memberikan pelayanan publik terhadap masyarakat atau warga negara, hanya dengan mengacu pada alasan cape, malas, lemah, ngantuk dan lain sebagainya oleh karena katanya sedang berpuasa.
Bukankah berpuasa itu adalah panggilan iman/kepercayaan/keyakinan yang tertanam dalam rahasia insan untuk melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhkan dari segala larangan yang mengutamakan keikhlasan dalam melaksanakannya. Bukan karena terpaksa, atau karena rasa malu pada suatu keadaan dimana pada suatu lingkungan tergolong pada orang-orang yang panatik, atau dikenal alim lalu berpuasa, atau karena takut kepada azab-azab Allah dan mengharapkan sorganya Allah SWT lalu berpuasa. Padahal sebenarnya telah terucap dari bibir manis yang mengata Lillahi Ta’ala di saat sedang membaca lapadz puasa tersebut, yang artinya hanya karena Allah SWT. Dan berarti semua ibadah itu adalah mengutamakan keikhlasan bukan keterpaksaan oleh suatu keadaan yang mendorong sebagai pendongkrak dalam melaksanakannya.
Jadi apakah perilaku dari administrator yang menjalankan tugas pemerintahan dalam rangka menyelenggarakan pelayanan publik tertentu itu pantas dan patut memberikan sebuah alasan jika dalam hal masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik tertentu, sedang mereka(masyarakat) tidak mendapatkan pelayanan publik yang maksimal dari penyelenggara negara yang berwenang untuk itu. Hanya dengan megatakan mohon maaf Bapak/Ibu kami tidak bisa membantu Bapak/Ibu karena kami(administrator) sedang berpuasa.
Ramadhan adalah bulan yang diberi gelar dengan sebutan lain yaitu bulan dari seribu bulan. Maksudnya Ramadhan merupakan bagian dari perhitungan waktu dari bulan kebulan yang lainnya dimana di bulan Ramadhan ini diturunkannya segala macam petunjuk(Hidayah), petuah dan pertolongan(inayah), kedudukan(kemuliaan), rahmah(kasih sayang), magpirah(ampunan), dan lain sebagainya...kepada seorang Nabi yang di utus menjadi Rasul, yang mana hingga sampai sekarang telah kita jalani.
Jika Allah SWT telah mengajarkan kepada seorang manusia yang diutus menjadi nabi, dan menjadi Rasul yaitu kepada Muhammad - Al Amin. Lalu timbul sebuah pertanyaan, apakah hal itu bisa terjadi kepada setiap manusia di muka bumi ini? Dan jika ia kelak menjadi seorang pemimpin yang menjalankan urusan pemerintahan dalam menyelenggarakan pelayanan publik apakah seorang pemimpin tersebut bisa menerapkan ajaran(hukum) yang di ajarkan Allah SWT kepada Muhammad.
Sebagai cerminan sosok pemimpin dalam menyelenggarakan pelayanan publik yang mencermini cara kepemimpinannya Muhammad Al Amin di masa kebodohan dengan mentranspormasikan pada masa moderenisasi yang kini melanda dunia malah menjadi kebutaan, kekacauan, bahkan ajaran-ajaran (hukum) akidah, akhlak dan moralitas sudah menjadi kabur dan bahkan menjadi dinding (hijab) yang tebal untuk menemukan pemimpin yang bersih transparan dari tuntutan amanah yang diberikan kepada seorang pemimpin di masa sekarang.
Perilaku baik yang nampak(munafikun), pencitraan dengan argumen yang mengesankan yang telah menakjubkan hati ummat/ masyarakat/ rakyat/ warga negara padahal dia mengetahui kebobrokan perilakunya yang sebenarnya telah dikuasai oleh hawa nafsunya, dengan menghalalkan segala macam cara, memamfaatkan kemajuan tekhnologi modern, sebagai jalur alternatif untuk mengutamakan privasinya untuk menjadi seorang calon pemimpin yang sedang menggila mengejar kursi kekuasaan. Media dimamfaatkan untuk mengedepankan hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan yang nampak, integritasnya, sosialnya, intelektualnya, kapasitasnyaatau kecakapannya, dan keistimewaan-keistimewaan lain dari seorang adminstrator yang berkaitan dengan jabatannya yang ada, dimana dengan dipublikasikannya hal tersebut maka ajaran(hukum) menjadi kabur dan pudar yang berakibat kekacauan, kehancuran di era masa mendatang dalam kehidupan.
Perilaku kebiasaan baik dari masa jahiliah(masa kebodohan) dari masa ke masa evolusi kehidupan pemikiran manusia dimasa itu, dari kepemimpinan pemimpin yang membawa petunjuk bagi ummat manusia di masa dimana ummat manusia dalam keadaan dikuasai oleh pengauasa zalim, yang mana jika ditransparansikan pemaknaan dari jahiliyah tersebut, ummat atau masyarakat yang terzalimi oleh penguasa zalim, munafikun, musyrikun telah dihancurkan oleh seorang Al Amin yang merupakan sebuah keputusan Allah SWT untuk menetapkan atau mengutus seorang Nabi dan Rasul yang akan menyempurnakan ajaran(hukum) yang terdahulu adanya.
Yang menjadi momentum, dari kejadian fenomena kehidupan di masa lalu yang semula terjadi pada masa jahiliyah adalah momentum sosok kepemimpinan yang kembali kepada cara kepemimpinan dengan menerapkan sifatnya Rasulullah SAW dalam memimpin ummat manusia di masa kebodohan itu.
Berbeda pada saat sekarang sosok kepemimpinan yang sudah menjadi sarana rebutan dan kebutaan pada calon pemimpin hanya untuk menjadikan sebagai ajang untuk mengejar pencitraan, Kekayaan, dan kejayaan privasi dengan lebih mengutaman nilai materiil yang sebenarnya sudah diperhitungkan akibanya. Yang nampak nyata di saat ini adalah persaingan antar para administrator yang menjadi calon pemimpin yang saling hasad-menghasud dengan bermain politik yang serba dalam kecurangan tertutup dan sungguh sangat ketidakberaturan(keos) yang tidak sepantasnya terjadi. Yang mana oleh sebab itu, dampak dari perilaku pemimpin yang demikian itu akan sulit untuk menjalankan tugas dan amanat yang dipertanggungjawabkan kepadanya.
Hakikat Kepemimpinan Rasul
Jika yang diutus menjadi seorang rasul itu adalah Muhammad(Al Amin), yang membawa ajaran(hukum Islam), dan Muhammad itu adalah nama atau gelar yang diberikan kepada seseorang, maka oleh karena seseorang maka Muhammad adalah seorang makhluk(abdun) yang diberi nama manusia (Annas) pada umumnya, yang tidak lain adalah sebagai buyut dari anak keturunan cucu nabi Adam AS adanya.
Dan kemudian apakah hubungannya dengan kita dan para pemimpin kita maupun calon pemimpin klita sekarang ini. Yang nantinya kelak akan menjalankan tugas pemerintahan dalam rangka menyelenggarakan pelayanan publik. Apakah sudah mengenal Muhammad dan sifat kepemimpinan Muhammad yang sebenarnya. Agar kiranya kita, bangsa dan negara ini menemukan kembali sosok kepemimpinan seorang pemimpin yang menjadi dambaan setiap warga negara untuk dijadikan patokan, tumpuan, pegangan, ikutan yang benar dalam memimpin serta menjalankan amanat(tugas,visi, dan misi) pemerintahan yang baik. Yang kemungkinan sangat besar dampak dan pengaruhnyanya pada suatu penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan penyelenggara negara akan melahirkan berbagai akibat-akibat tertentu, yang mana bisa berdampak negatif dan juga berdampak positif.
Jadi jika mengenal hakikat Muhammad dan sifat perilaku Muhammad dalam kepemimpinannya, maka mengapa kita, para pemimpin dan calon pemimpin kita yang sama halnya juga makhluk seperti Muhammad, lalu kita tidak bisa menerapkan perilaku teladan dari cara kepemimpinan Muhammad dalam memberikan pelayanan publik terhadap segenap lapisan masyarakat dan warga negara pada umumnya.
Semoga dengan ibadah-ibadah yang dilakukan di bulan Ramahdan yang saat ini sedang berjalan dapat memberikan solutif dalam rangka memperbaikai sistem pemerintahan menjadi lebih baik, melayani dengan pelayanan publik yang maksimal, ikhlas dan berkesinambungan, tidak diskriminasi dalam memberikan pelayanan, jujur dalam menjalankan tugas dan kewajiban yang telah diamanatkan kepada kita, dan penyelenggara negara dlam sistem pemerintahan yang berdasarkan Keadilan dan Ketuhanan Tang Maha Esa.
“Jangan mengatur orang lain jika kita belum mengenal diri;
Jangan memerintah orang lain jika kita mampu melakukannya sendiri;
Jangan merasa berkuasa jika kita ada yang Maha menguasai;
Ingatlah mati yang kelak selalu menanti agar tidak zalim dalam memimpin negeri ini”.
Penulis:Muhammad Murjani
Pramubakti Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Selatan///Mahasiswa STIH Sultan Adam Banjarmasin
Email:murjaniombudsman910@gmail.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar